Jreng! AS Tolak Dukung Resolusi PBB soal Kedaulatan Ukraina

Amerika Serikat menolak menjadi sponsor bersama dalam rancangan resolusi PBB yang memperingati tiga tahun invasi Rusia ke Ukraina, yang sebelumnya selalu didukung dalam peringatan tahunan sebelumnya. Selain itu, Washington juga menolak frasa ‘agresi Rusia’ dalam pernyataan G7, sebuah langkah yang menandai perubahan sikap signifikan terhadap konflik ini. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan sekutu Ukraina, terutama karena AS selama ini menjadi pendukung utama dalam melawan invasi Rusia. Sementara itu, negara-negara pendukung Ukraina kini berupaya mencari dukungan dari negara-negara Global South untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh AS.

Perubahan kebijakan ini diyakini berakar pada strategi pemerintahan Donald Trump, yang ingin mengakhiri perang dengan cepat melalui negosiasi langsung dengan Moskow tanpa melibatkan Ukraina. Trump bahkan mengirim tim negosiasi ke Arab Saudi untuk berunding dengan Rusia, yang semakin memperburuk hubungan Washington-Kyiv. Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Volodymyr Zelensky menolak kesepakatan perdagangan mineral dengan AS, yang akan memberikan 50% hak kepemilikan sumber daya Ukraina kepada Washington. Seorang penasihat Trump menyatakan bahwa AS ingin “membuat Zelensky kembali ke realitas,” menunjukkan bahwa Gedung Putih tidak lagi menganggap perlawanan Ukraina sebagai prioritas utama.

Keputusan AS untuk tidak lagi mendukung resolusi PBB berpotensi melemahkan tekanan internasional terhadap Rusia dan memperkuat posisi Moskow dalam diplomasi global. Tanpa dukungan kuat AS, Ukraina menjadi semakin rentan, terutama karena bantuan militer dan politik dari Washington selama ini menjadi faktor utama dalam ketahanan mereka terhadap Rusia. Sementara itu, Rusia terus memperluas kendali di Ukraina timur dan tetap bersikeras bahwa operasi militernya merupakan respons terhadap ancaman dari upaya Kyiv bergabung dengan NATO. Perubahan sikap AS ini dapat menjadi titik balik dalam dinamika geopolitik konflik Rusia-Ukraina, dengan implikasi besar bagi masa depan perang dan keseimbangan kekuatan di Eropa.

Search