Pengungsi perempuan Papua, Yokbeth Felle dari Aneta Papua, mengeluhkan adanya kelelahan batin yang mendalam akibat konflik bersenjata yang tak usai di tanah Papua sebagaimana dikutip “Kenapa Tuhan menciptakan kami perempuan Papua yang melahirkan untuk dibunuh oleh korban Indonesia? Lebih baik Tuhan menutup dengan ini supaya kami tidak beranak”.
Yokbeth Felle mengungkap bagaimana tubuh perempuan Papua selama ini menjadi “medan koloni” bagi kepentingan kekuasaan. Kesulitan banyak dialami oleh pengungsi perempuan termasuk mereka yang sedang hamil atau menyusui, yang terpaksa melahirkan di tengah hutan tanpa akses kesehatan dan sanitasi yang layak. Esther Haluk, Sekretaris Departemen Perempuan Gereja Kemah Injil (Kingmi) Papua, menambahkan perempuan Papua tidak bisa lagi ke kebun sendirian harus ditemani oleh saudara laki-laki/suami. Tanpa pendamping pria, mereka memilih untuk menahan lapar daripada bertaruh nyawa.
Data menunjukkan hingga 2026, tercatat sekitar 85.000 orang Papua hidup sebagai pengungsi internal. Pengerahan pasukan militer, baik organik maupun non-organik justru memperparah situasi dan menciptakan iklim intimidasi yang permanen. Mutiara Ika Pratiwi dari Perempuan Mahardika menegaskan agar mengedepankan pendekatan kemanusiaan dan hentikan pembenaran pengiriman pasukan ke tanah Papua dengan legitimasi narasi keamanan.
Suara dan jeritan para mama sesungguhnya mengajak publik di Tanah Air untuk tidak lagi menutup mata. Sebab, perjuangan mereka bukan hanya soal politik, melainkan soal hak paling mendasar yakni hak untuk hidup tanpa rasa takut.
