Ironi Penghargaan IRRI

Institut Penelitian Padi Intemasional (IRRI) baru saja memberikan penghargaan kepada Pemerintah Indonesia karena dinilai memiliki sistem ketahanan pangan yang baik dan berhasil swasembada beras selama periode 2019-2021. BPS mencatat, produksi beras nasional mencapai 31,31 juta ton pada 2019, lalu naik menjadi 31,5 juta ton di 2020, dan 31,36 juta ton pada 2021. Artinya, dengan rata-rata konsumsi mencapai 2,5 juta ton per bulan atau sekitar 30 juta ton per tahun, produksi beras nasional selalu surplus kurun 2019-2021.

Akan tetapi, penghargaan itu diberikan di tengah derita berkepanjangan petani padi Tanah Air. Nilai tukar petani (NTP), indikator yang digunakan untuk melihat kesejahteraan petani, misalnya, tercatat di bawah 100 untuk sub-sektor tanaman pangan dalam kurun lima bulan terakhir. Artinya, petani tanaman pangan tekor, sebab indeks harga yang harus mereka bayar (lb) lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang mereka terima (It).

Sepanjang tahun lalu, NTP tanaman pangan bulanan konsisten di bawah 100 sepanjang Februari-Desember 2021, berarti mereka selalu tekor di 11 bulan tersebut. BPS mencatat, kasus harga gabah di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) terjadi 28 bulan berturut-turut hingga Juli 2022. Fenomena itu tidak lazim sebelum April 2020. Kasus harga gabah di bawah HPP biasanya terjadi saat panen raya atau ketika surplus produksi terjadi. Namun, kasus harga gabah di bawah HPP menjadi hal yang lumrah dua tahun terakhir. Pada April 2022, ketika produksi padi mencapai puncaknya, kasus harga gabah di bawah HPP bahkan mencapai 33,6 persen dari 1.783 titik observasi.

Selama bertahun-tahun, petani jadi korban asimetri. Ketika harga beras di tingkat konsumen naik, transmisinya ke harga gabah petani berjalan sangat lambat. Sebaliknya, ketika harga beras di tingkat konsumen turun, transmisinya berlangsung cepat. Kenyataan itu kian membenamkan petani dalam stereotipe miskin dan tidak sejahtera. Penghargaan IRRI bisa jadi meletupkan kebanggaan. Namun, ada sederet problem yang mendesak diurai, khususnya terkait kesejahteraan petani. Apa artinya swasembada jika petani tak sejahtera?

Search