Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Iran menyatakan status siaga penuh dan menegaskan kesiapannya untuk “perang habis-habisan” menyusul pengerahan besar-besaran armada militer Amerika Serikat (AS) ke kawasan. Teheran memperingatkan, setiap bentuk serangan, sekecil apa pun, akan dianggap sebagai deklarasi perang total. Seorang pejabat senior Iran mengungkapkan, meskipun pihaknya berharap pengerahan kekuatan militer AS bukan untuk konfrontasi nyata, militer Iran telah menyiapkan skenario terburuk.
Ketegangan ini dipicu oleh pergerakan gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln bersama tiga kapal perusak pendamping yang dilaporkan telah memasuki Samudra Hindia. Armada ini dijadwalkan tiba di Timur Tengah dalam hitungan hari. Kehadiran kapal-kapal ini akan menambah kekuatan AS yang sebelumnya sudah menyiagakan tiga kapal tempur di Bahrain dan dua kapal perusak di Teluk Persia. Secara total, pengerahan ini membawa sekitar 5.700 personel militer tambahan ke kawasan tersebut. Presiden AS Donald Trump pada Kamis (22/1/2026), menyatakan harapannya agar kekuatan militer itu tidak perlu digunakan. Meski demikian, Trump tetap memberikan peringatan keras kepada Teheran terkait program nuklir dan penanganan demonstran.
Menanggapi ancaman tersebut, pihak Iran menegaskan tidak memiliki pilihan lain selain mengerahkan seluruh sumber daya pertahanan mereka untuk menjaga integritas teritorial. Ia menambahkan, Iran berupaya memulihkan keseimbangan kekuatan di kawasan demi menghadapi ancaman yang terus menerus datang dari AS.
