Iran mengklaim langsung melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk hanya beberapa jam setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Militer Iran menyebut serangan itu sebagai balasan atas operasi militer AS di wilayahnya. Teheran mengklaim telah menyerang sistem pertahanan udara Patriot AS di Kuwait, lokasi peringatan dini di Qatar, depot bahan bakar Angkatan Darat AS di Bahrain, hingga pangkalan militer Azraq di Yordania. Garda Revolusi Iran memperingatkan Washington agar tidak kembali melakukan intervensi militer. “Intervensi AS lebih lanjut akan memicu tanggapan yang menghancurkan,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran, Jumat (10/7/2026).
Sementara itu, prosesi pemakaman Khamenei berlangsung di Mashhad dan dihadiri lautan massa yang memenuhi kompleks makam. Sejumlah pelayat membawa spanduk bernada anti-Amerika. Di sisi lain, seorang pejabat AS mengatakan Washington tidak melancarkan serangan baru dalam beberapa jam terakhir. Meski demikian, sebelumnya Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan telah menggempur sekitar 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, fasilitas pengawasan pantai, serta lokasi penyimpanan rudal dan drone. Presiden AS Donald Trump mengatakan operasi tersebut merupakan respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal di kawasan.
Media Iran melaporkan serangkaian ledakan di sejumlah wilayah selatan negara itu, termasuk Bushehr yang menjadi lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir buatan Rusia. Garda Revolusi Iran menyatakan lalu lintas kapal di Selat Hormuz mulai pulih hingga sekitar 50% dibandingkan sebelum perang. Namun, Teheran menegaskan hanya kapal yang mengikuti rute yang ditetapkan Iran yang diizinkan melintas.
