Sayap militer Iran, Pasukan Garda Revolusi (IRGC), bersumpah pada hari Minggu untuk menargetkan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, Minggu. Ini seiring masih berlanjutnya perang dengan Israel dan Amerika Serikat (AS). IRGC menegaskan akan terus mengejar dan membunuh sang PM, jika ia masih hidup. Di kesempatan yang sama, IRGC juga mengatakan kemungkinan Netanyahu telah meninggalkan Israel bersama keluarganya meski tanpa bukti klaim.
Sementara itu, AS dan Israel terus melakukan serangan militer terhadap Iran, akhir pekan, termasuk beberapa lokasi di provinsi Isfahan tengah. Sebagai tanggapan, Iran telah meluncurkan rentetan rudal ke Israel, dengan dampak yang dilaporkan di kota Holon. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah menghubunginya terkait potensi kesepakatan, tetapi ia mengindikasikan bahwa syarat-syaratnya “belum cukup baik”. Pada Minggu, ia berujar ke negara-negara dunia, termasuk Inggris dan Jepang, untuk mengirim kapal perang guna mengamankan Selat Hormuz, yang ditutup Iran.
Sementara itu, Teheran mengklaim telah meluncurkan serangan baru menggunakan rudal dan drone terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Minggu, dilaporkan bagaimana fasilitas militer AS di beberapa negara seperti Irak, Bahrain, dan Kuwait menjadi target serangan ketika konflik memasuki hari ke-16. Teheran juga memperingatkan warga sipil di kawasan tersebut agar tidak mendekati fasilitas yang berkaitan dengan militer Amerika. Juru bicara komando militer Iran menyatakan bahwa drone militer mereka saat ini sedang memburu target pasukan AS di kawasan.
