Iran Chaos! Puluhan Tewas dalam Demo Berdarah, AS Mau Ikut-ikutan

Kerusuhan besar yang dipicu oleh kemerosotan tajam ekonomi dan keterpurukan nilai mata uang Iran memasuki minggu kedua dengan jatuhnya puluhan korban jiwa dan ratusan penangkapan baru. Protes yang bermula dari tuntutan ekonomi kini berkembang menjadi kritik tajam terhadap rezim teokratis di negara itu, memperlihatkan ketidakpuasan publik yang semakin luas terhadap kepemimpinan negara. Jaringan aktivis HRANA menyebut angka setidaknya 29 korban tewas dan 1.203 orang ditangkap hingga 5 Januari.

Protes yang mulai 28 Desember 2025 itu pertama kali dipicu oleh aksi pedagang di Grand Bazaar Tehran yang menutup toko mereka untuk memprotes anjloknya nilai rial terhadap dolar AS hingga rekor terendah. Inflasi yang terus meningkat membuat harga kebutuhan pokok meroket dan membuat kehidupan sehari-hari makin sulit bagi banyak warga. Dalam beberapa hari terakhir, bentrokan antara pasukan keamanan dan demonstran makin intens.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui bahwa situasi ekonomi sudah berada di luar kendali penuh pemerintah dan menyerukan reformasi. Protes ini juga mendapatkan perhatian internasional, terutama karena pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memperingatkan kemungkinan intervensi jika pasukan Iran melakukan tindakan keras terhadap demonstran. Pernyataan itu memicu teguran keras dari pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menolak tekanan luar negeri. Pemerintah Iran menuduh kekuatan asing memanfaatkan ketidakpuasan ekonomi untuk memicu kekacauan dan menjelekkan negara.


Search