Investasi KEK Tembus Rp336 Triliun, RI Siap Resmikan 6 Kawasan Baru

Pemerintah akan segera memberikan status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk 6 kawasan baru. Saat ini, total investasi kumulatif di 25 KEK telah mencapai Rp336 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 249.000 orang sejak dibentuk 2012 hingga 2025. Sektor-sektor yang memiliki nilai tambah tinggi sekaligus menyerap banyak tenaga kerja akan difasilitasi untuk berkembang di KEK. Dengan kepastian regulasi dan fasilitas yang tersedia, investasi di kawasan tersebut diperkirakan memiliki potensi pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. Selain itu, berbagai perjanjian perdagangan seperti ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA), Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), serta Free Trade Agreement (FTA) juga dinilai dapat mendorong masuknya industri berorientasi ekspor ke dalam KEK. 

Plt Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Rizal Edwin Manansang mengatakan realisasi investasi di kawasan tersebut terus meningkat. Pada 2025, investasi yang masuk ke KEK mencapai Rp82,6 triliun atau sekitar 98 persen dari target, dengan tambahan penyerapan tenaga kerja 88.541 orang. Saat ini Indonesia memiliki 25 KEK yang terdiri dari 13 KEK industri, 6 KEK pariwisata, 2 KEK kesehatan, 1 KEK digital, 2 KEK pendidikan dan teknologi, serta 1 KEK jasa perawatan pesawat. Rizal menerangkan, menurut kajian Prospera dan LPEM UI, wilayah yang memiliki status dan fasilitas KEK dapat menarik investasi hingga 77% lebih tinggi dibandingkan wilayah tanpa KEK. “Pada KEK industri, investasi asing langsung bahkan bisa mencapai sekitar 179% lebih tinggi dibandingkan wilayah non-KEK,” tuturnya.

Berdasarkan survei triwulan IV 2025, total penambahan aset atau investasi di KEK mencapai Rp15,1 triliun dalam satu triwulan. Investasi terbesar tercatat di KEK Sei Mangkei sebesar Rp4,349 triliun dan KEK Kendal sebesar Rp3,067 triliun. Dari sisi pasar, sekitar 58 persen pendapatan produksi perusahaan di KEK berasal dari ekspor, sementara 42 persen berasal dari pasar domestik. Selain itu, sekitar 58 persen bahan baku berasal dari dalam negeri. Salah satu kawasan yang menunjukkan pertumbuhan signifikan adalah KEK Kendal di Jawa Tengah yang berfokus pada industri manufaktur seperti furnitur, makanan dan minuman, otomotif, tekstil, dan fashion. Direktur Eksekutif KEK Kendal Juliani Kusumaningrum mengatakan sejak memperoleh status KEK pada 2019, kawasan tersebut telah menarik komitmen investasi kumulatif Rp187 triliun.

Search