Dana Moneter Internasional (IMF) menilai gencatan senjata di Timur Tengah dan langkah menuju pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi perkembangan positif bagi perekonomian global. Meski demikian, lembaga tersebut mengingatkan proses normalisasi belum akan berlangsung cepat dan sejumlah risiko masih membayangi, terutama bagi negara-negara pengimpor energi.
Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS) Israel, dan Iran memicu lonjakan harga minyak, gas alam dan pupuk. Selain pasar energi, konflik juga mengganggu perdagangan pupuk dunia. Reuters melaporkan, selama perang berlangsung, ekspor pupuk urea dan sulfur melalui Selat Hormuz merosot tajam. Padahal, kawasan Teluk menyumbang sekitar sepertiga perdagangan urea dunia dan hampir setengah perdagangan sulfur melalui jalur laut.
Dalam konferensi pers IMF, Kamis (25/6/2026), Direktur Departemen Komunikasi IMF Julie Kozack mengatakan perang di Timur Tengah menguji ketahanan ekonomi global. Menurut dia, kerangka penilaian yang digunakan IMF sejak April lalu masih relevan dalam melihat dampak konflik terhadap perekonomian dunia. Ia menjelaskan, IMF masih menggunakan tiga jalur utama dalam menilai dampak perang, yakni melalui pergerakan harga komoditas terutama minyak, dampak lanjutan terhadap inflasi dan ekspektasi inflasi, serta kondisi keuangan global.
