IDAI Imbau Orangtua Peka Kesehatan Mental Anak

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, satu dari tiga remaja usia 10–17 tahun atau sekitar 15,5 juta jiwa mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir, sementara satu dari 20 remaja memenuhi kriteria gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan gangguan perilaku. IDAI menilai masalah ini kerap luput dari perhatian karena gangguan mental pada anak sulit dikenali dan masih dianggap sebagai persoalan orang dewasa. Pola asuh yang memberikan tekanan berlebihan, terutama tuntutan prestasi akademik yang tidak sesuai dengan kemampuan anak, juga menjadi salah satu faktor pemicu.

IDAI menekankan bahwa keluarga merupakan benteng pertama dalam mencegah dan mendeteksi gangguan mental anak. Orang tua perlu menerapkan pola asuh yang mengedepankan konsep Asuh, Asih, dan Asah serta menjadikan rumah sebagai tempat yang aman bagi anak untuk menyampaikan keluhan. Selain tekanan keluarga, kesehatan mental remaja juga dipengaruhi oleh tekanan teman sebaya, perundungan siber, dan paparan konten negatif di internet. Gejala seperti kehilangan minat, penurunan nafsu makan, merasa tidak berharga, kecemasan berlebihan, kegelisahan, hingga keluhan fisik tanpa sebab yang jelas perlu diwaspadai, terutama jika perubahan perilaku atau emosi tiba-tiba mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Untuk mendukung deteksi dini, IDAI merekomendasikan penggunaan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) sebagai instrumen skrining masalah emosional, perilaku, dan relasi sosial anak usia 3–18 tahun. Bagi remaja, tenaga kesehatan juga dapat menggunakan pendekatan HEEADSSS (home, education/employment, eating, activities, drugs, sexuality, suicide/depression, safety) untuk menggali kondisi psikososial secara lebih menyeluruh. Selain deteksi dini, orang tua dianjurkan membangun komunikasi yang hangat dan tidak menghakimi, mendorong anak melakukan aktivitas positif seperti olahraga dan mengembangkan hobi, serta membatasi penggunaan media sosial. Anak juga perlu didorong untuk berani bercerita kepada orang tua, guru, atau orang yang dipercaya dan segera mendapatkan bantuan profesional apabila muncul perubahan perilaku yang signifikan.

Search