HPV Jadi Sorotan di X, Seperti Apa Risikonya?

Human papillomavirus (HPV) kembali menjadi perhatian publik setelah ramai dibahas di media sosial, terutama terkait fakta bahwa infeksi pada laki-laki sering tidak menimbulkan gejala tetapi dapat memicu kanker pada perempuan, termasuk kanker serviks dan kanker tenggorokan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, HPV merupakan kelompok sekitar 200 jenis virus; sebagian besar tidak berbahaya, namun tipe berisiko tinggi dapat menyebabkan kutil kelamin hingga berbagai kanker. Sekitar 90 persen infeksi sebenarnya dapat dikendalikan tubuh secara alami, meskipun hampir semua individu aktif secara seksual berpotensi terpapar setidaknya sekali sepanjang hidupnya tanpa menyadarinya.

Data global menunjukkan dampak HPV cukup besar, dengan sekitar 620.000 kasus kanker pada perempuan dan 70.000 kasus kanker pada laki-laki pada tahun 2019. Pakar mikrobiologi klinis Tri Wibawa dari Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa virus ini telah lama dikaitkan dengan kanker serviks sejak tahun 1980-an. Dalam banyak kasus, kontribusi HPV terhadap kanker serviks dapat mencapai sekitar 70 persen hingga hampir 100 persen tergantung kondisi sistem imun dan faktor risiko individu. Penularannya terjadi melalui kontak langsung kulit di area genital sehingga hubungan seksual tetap berisiko meskipun tanpa pertukaran cairan tubuh.

Karena tidak semua infeksi HPV menimbulkan gejala, banyak orang tidak menyadari dirinya terinfeksi. Upaya pencegahan utama dilakukan melalui vaksinasi HPV dan skrining kanker serviks untuk mendeteksi perubahan sel sejak dini. Para pakar menekankan pentingnya kewaspadaan bagi individu yang telah aktif secara seksual melalui penggunaan pengaman, tidak berganti-ganti pasangan, serta pemeriksaan kesehatan berkala guna menekan risiko infeksi dan mencegah dampak jangka panjang berupa kanker.

Search