Hotspot dan Luas Karhutla Sudah Melejit Sebelum Puncaknya

Sepanjang Januari hingga 21 Juli 2026, aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan. Akumulasi hotspot telah mencapai lebih dari 80 ribu titik, melampaui periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, termasuk 2019 dan 2023. Luas lahan terbakar tercatat sekitar 103 ribu hektare, dengan Nusa Tenggara Timur menjadi provinsi yang terdampak paling luas, yakni 25.466 hektare, disusul Kalimantan Barat 20.432 hektare dan Riau 11.525 hektare. Meski angka ini masih jauh di bawah luas karhutla sepanjang 2019 yang mencapai 2,63 juta hektare, kondisi tersebut dinilai mengkhawatirkan karena puncak musim kemarau yang biasanya meningkatkan risiko kebakaran baru diperkirakan terjadi pada Agustus hingga Oktober.

Salah satu anomali yang menjadi perhatian adalah meningkatnya aktivitas hotspot dan karhutla di Papua Selatan, yang musim kebakarannya terdeteksi lebih awal dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Data FireWatch menempatkan Papua Selatan di peringkat keempat secara nasional dalam jumlah hotspot dan luas area terbakar pada semester pertama 2026. Pantau Gambut juga mencatat 757 hotspot yang sebelumnya tidak pernah muncul di wilayah tersebut pada musim karhutla tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kawasan gambut dan wilayah pengembangan proyek strategis, termasuk ekspansi food estate, karena pembukaan lahan berpotensi meningkatkan risiko kebakaran. Pantau Gambut mencatat sekitar 30 ribu hotspot sepanjang Januari-Juni 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2023, 2019, dan 2015.

Peningkatan karhutla juga perlu diwaspadai karena Indonesia diperkirakan menghadapi penguatan fenomena El Nino. Peneliti BRIN Erma Yulihastin menyebut El Nino telah memasuki fase kuat dengan anomali suhu muka laut mencapai sekitar +1,5 derajat Celsius, sementara El Nino super dengan anomali +2 derajat Celsius atau lebih berpeluang terjadi mulai Agustus dan mencapai puncak pada Oktober-November-Desember. Kalimantan disebut sebagai salah satu wilayah yang paling responsif terhadap kekeringan akibat El Nino, sehingga risiko karhutla berpotensi meningkat. Kondisi hotspot yang sudah tinggi sebelum puncak kemarau dan El Nino menjadi sinyal peringatan dini bagi pemerintah untuk memperkuat pencegahan dan mitigasi karhutla sejak sekarang.

Search