Jerman dan Australia telah menyerukan kepada warganya di Israel dan Lebanon untuk mengambil langkah-langkah keamanan pencegahan, di tengah kemungkinan serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Kementerian Luar Negeri Australia, Rabu (25/2/2026) menyatakan kalau mereka telah meminta keluarga diplomat Australia di Israel dan Lebanon untuk meninggalkan kedua negara tersebut, dengan alasan memburuknya situasi keamanan di kawasan itu. Kedutaan Besar Jerman di Tel Aviv juga mendesak warga Jerman di Israel untuk segera pergi dari negara tersebut. Bagi mereka yang memilih tetap berada di Israel dan Lebanon, Pemerintah Jerman meminta mereka bersiap menghadapi kemungkinan tetap berada di tempat mereka jika wilayah udara ditutup karena serangan Iran.
Saat hitungan mundur dimulai untuk putaran ketiga pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa pada Kamis, para pejabat dari kedua negara menekankan pentingnya opsi diplomatik, sambil secara bersamaan berupaya meningkatkan kesiapan mereka. Kamis lalu, Presiden AS Donald Trump memberi Teheran tenggat waktu antara 10 dan 15 hari untuk mencapai kesepakatan atau menghadapi “hal-hal yang sangat buruk,” seperti yang ia katakan, sementara Iran berulang kali mengancam akan memberikan tanggapan tegas terhadap serangan apa pun, sekecil apa pun.
Sebelumnya, media Israel melaporkan bahwa Tel Aviv telah meningkatkan tingkat siaga militernya dan mengadakan pertemuan keamanan intensif sebagai antisipasi kemungkinan serangan gabungan dengan Amerika Serikat. Kekhawatiran tersebut meluas ke Lebanon, di mana Menteri Luar Negeri Lebanon Youssef Raji memperingatkan pada hari Selasa bahwa Israel mungkin akan menargetkan infrastruktur Lebanon jika terjadi konfrontasi militer antara Iran dan Washington.
