Harga Timah Global Melonjak 50% dalam Tiga Bulan, Pasokan Ketat Jadi Pemicu

Harga timah di pasar global terus melesat dalam tiga bulan terakhir seiring ketatnya pasokan dan meningkatnya permintaan dari industri berteknologi tinggi. Data London Metal Exchange (LME) menunjukkan, harga timah naik dari US$ 36.435 per ton pada 27 Oktober 2025 menjadi US$ 54.878 per ton per 26 Januari 2026. Artinya, harga timah melonjak sekitar 50,62% dalam waktu singkat. Pemerintah menilai lonjakan harga ini tidak terlepas dari pengetatan tata kelola pertambangan timah di dalam negeri, termasuk upaya pemberantasan tambang ilegal.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, kenaikan harga terjadi karena lonjakan permintaan di tengah pasokan yang terbatas. Permintaan timah meningkat dari berbagai sektor strategis, seperti industri elektronik, semikonduktor, hingga panel surya. Di saat yang sama, produksi dari sejumlah negara pemasok utama terganggu, ditambah dinamika kebijakan dan geopolitik global yang ikut menekan suplai. 

Dari sisi emiten, PT Timah Tbk (TINS) melihat kenaikan harga timah sangat dipengaruhi sentimen pasar terkait isu pasokan. Division Head Corporate Secretary PT Timah Tbk Rendi Kurniawan menjelaskan, pengetatan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta izin ekspor di Indonesia menjadi salah satu faktor utama. Rendi menambahkan, kenaikan harga timah berdampak positif terhadap harga jual produk PT Timah, khususnya untuk pasar ekspor. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy mengingatkan risiko jangka panjang yang perlu diwaspadai. Harga yang terlalu tinggi berpotensi menekan daya beli konsumen dan memicu penurunan permintaan.

Search