Harga minyak Brent melambung lebih dari 2 % ke US$107,97 per barel setelah perundingan damai AS‑Iran terhenti, memicu kekhawatiran inflasi dan menurunkan ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed. S&P 500 turun 0,3 % sementara investor tetap membeli saham AI dan dolar AS menguat terhadap euro dan yen.
Penutupan Selat Hormuz serta kenaikan harga LNG sebesar 61 % dibandingkan level pra‑perang memperparah tekanan pada pasokan energi. Sementara Goldman Sachs meningkatkan prospek harga Brent akhir tahun menjadi US$90 per barel, mengingat kemungkinan penurunan persediaan ke level terendah dalam beberapa dekade.
Bank sentral utama diperkirakan akan mempertahankan kebijakan suku bunga saat ini, dengan Bank Sentral Jepang mengunci 0,75 % dan The Fed serta ECB diprediksi tidak akan melakukan pengetatan segera, meskipun pasar menilai potensi kenaikan suku bunga di akhir tahun.
