Geopolitik Bayangi Ekonomi 2026, Rupiah dan APBN Berisiko Tertekan

Perekonomian global 2026 dibayangi ketidakpastian usai eskalasi geopolitik, mulai dari manuver agresif Amerika Serikat di kawasan Amerika Latin dan Arktik hingga gelombang instabilitas politik di Iran. Ekonom pun mewanti-wanti dampaknya ke perekonomian domestik terutama kurs Rupiah hingga beban APBN 2026. Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Andry Asmoro menilai eksposur dagang langsung Indonesia terhadap wilayah konflik relatif terbatas. Namun, risiko rambatan melalui pasar keuangan global dan pergerakan harga komoditas energi tetap perlu diantisipasi.

Instabilitas di Iran sebagai salah satu produsen minyak dunia dapat mengganggu rantai pasok energi global. Meski pasar minyak saat ini masih berada dalam kondisi kelebihan pasokan, gangguan di kawasan Timur Tengah tetap menjadi ancaman bagi Indonesia yang merupakan net oil importer. Harga minyak Brent tercatat menguat ke level US$63,6 per barel pada awal pekan ini. Menurut perhitungan Bank Mandiri, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel berpotensi menambah defisit fiskal Indonesia hingga Rp6,8 miliar.

Research Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) Gundy Cahyadi meminta pemerintah menghindari langkah-langkah kebijakan yang bersifat eksperimental pada 2026 dan lebih memprioritaskan stabilitas serta kualitas pelaksanaan kebijakan. meskipun fundamental ekonomi Indonesia relatif kuat dengan basis permintaan domestik yang besar, ruang kesalahan kebijakan semakin menyempit di tengah meningkatnya risiko global. Gundy menjelaskan bahwa lonjakan aversi risiko global, termasuk jika konflik meluas seperti potensi ketegangan China-Taiwan, dapat memicu arus modal keluar dari negara berkembang.

Search