Partai Komunis China menjadi salah satu partai politik yang mampu mengubah nasib negara. Dari negara yang pernah dilanda kemiskinan, kelaparan, dan keterbelakangan, menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia sekaligus salah satu pemimpin dalam teknologi mutakhir.
Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong mengatakan, resep keberhasilan PKC ialah karena mengacu pada kondisi nasional China, menggabungkan prinsip-prinsip dasar Marxisme dengan realitas nyata China serta dengan warisan budaya tradisional China, tidak meniru model negara lain begitu saja, dan tidak memperlakukan pengalaman apa pun sebagai dogma yang tidak berubah. Adaptasi ini menunjukkan Partai Komunis China dinilai sebagai salah satu partai paling fleksibel dalam mengelola negara tanpa melepaskan kendali politik.
Ketika peralihan kepemimpinan dari Mao Zedong yang mengalami persoalan biaya sosial yang besar, Deng Xiaoping tidak membongkar sistem politik yang diwariskan Mao. Yang diubah adalah cara negara memandang pembangunan. Ia membuka pintu bagi investasi asing, memberi ruang pada mekanisme pasar, mendirikan kawasan ekonomi khusus seperti Shenzhen, dan mendorong sektor swasta berkembang. Sementara, di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, pendekatannya baru lagi. Setelah era Deng berfokus pada ”menjadi kaya”, Xi berbicara tentang bagaimana China ”menjadi kuat”.
Modernisasi tidak lagi hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menguasai teknologi strategis, memperkuat keamanan nasional, membangun industri hijau, dan mengurangi ketergantungan pada Barat. Kini, modernisasi China berubah dari proyek ekonomi jadi proyek geopolitik. Menurut Direktur SOAS China Institute di University of London, Steve Tsang, sentralisasi kekuasaan pada era Xi memang meningkatkan kemampuan negara mengoordinasikan pembangunan. Namun, model itu juga berpotensi mengurangi ruang bagi perbedaan pandangan dan mekanisme koreksi di dalam sistem politik.
