Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta memperketat kewaspadaan terhadap leptospirosis menyusul meningkatnya risiko penularan pada musim hujan. Sejak Januari hingga akhir Februari 2026, tercatat enam kasus, angka yang dinilai cukup tinggi karena sudah mencapai separuh rata-rata kasus tahunan. Sebagai perbandingan, terdapat 11 kasus pada 2023, sembilan kasus pada 2024, dan meningkat menjadi 14 kasus pada 2025. Seluruh kasus awal 2026 telah tertangani dan tidak menimbulkan kematian.
Leptospirosis merupakan penyakit endemis di Kota Yogyakarta yang ditularkan bakteri leptospira, umumnya melalui urine tikus terinfeksi. Penularan tidak hanya terjadi di lingkungan permukiman, tetapi juga di area berisiko seperti pasar, sungai, dan sawah yang terpapar air tercemar. Bakteri dapat masuk ke tubuh melalui luka pada kulit maupun mukosa (mata, hidung, mulut, telinga). Gejala awal kerap menyerupai masuk angin, seperti demam ringan 37–38°C, pusing, nyeri otot, mata merah atau kekuningan, penurunan volume urine, serta nyeri khas pada betis.
Musim hujan memperbesar risiko penyebaran karena lingkungan lembap dan tumpukan sampah mendukung perkembangbiakan tikus. Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk rajin mencuci tangan dengan sabun, membersihkan lingkungan, tidak menumpuk sampah, serta menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas di area berisiko. Warga juga disarankan segera mandi setelah terpapar air kotor dan menutup luka terbuka guna mencegah infeksi.
