Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus mendekati level Rp17.000 per dollar AS mulai memunculkan kekhawatiran efek berantai bagi perekonomian nasional, mulai dari potensi kenaikan bunga kredit perbankan hingga ancaman lonjakan harga kebutuhan pokok. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan suku bunga menjadi salah satu opsi yang berpotensi ditempuh bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Jika Bank Indonesia benar menaikkan suku bunga acuan, dampaknya diperkirakan langsung terasa pada sektor perbankan. Kenaikan BI-Rate biasanya diikuti peningkatan bunga kredit bank. Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi kemampuan masyarakat dalam mengakses pembiayaan, terutama untuk pembelian properti maupun kredit konsumsi.
Konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah dunia melonjak hingga sekitar 117 dollar AS. Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, Indonesia harus mengeluarkan devisa lebih besar ketika harga minyak dunia naik. Kondisi ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah lebih lanjut. Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga memperbesar beban subsidi energi pemerintah. Jika tekanan terhadap APBN meningkat, pemerintah berpotensi melakukan penyesuaian kebijakan seperti pengurangan subsidi atau penyesuaian harga energi di dalam negeri.
Kenaikan harga energi biasanya memicu efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi. Biaya transportasi dan distribusi barang meningkat sehingga harga berbagai kebutuhan sehari-hari ikut terdorong naik. Sejumlah komoditas impor seperti barang elektronik maupun bahan baku industri juga berpotensi mengalami kenaikan harga. Sektor pertanian pun dapat terdampak karena komoditas seperti kedelai, jagung, dan pupuk masih dipengaruhi oleh harga energi global dan biaya distribusi.
