Pemerintah Republik Demokratik Kongo melaporkan korban meninggal akibat wabah Ebola telah mencapai 930 orang dari 2.344 kasus terkonfirmasi hingga Senin (20/7/2026). Angka tersebut meningkat tajam dibanding dengan pekan sebelumnya yang mencatat 754 kematian dari sekitar 2.000 kasus. Sekitar 90 persen kasus ditemukan di Provinsi Ituri, wilayah timur Kongo yang dilanda konflik dan pemberontakan. Wabah yang dimulai sejak pertengahan Mei 2026 ini dipicu virus Ebola varian Bundibugyo yang sangat menular, sementara hingga kini belum tersedia vaksin maupun pengobatan spesifik yang efektif untuk varian tersebut.
Penanganan wabah semakin sulit akibat memburuknya situasi keamanan dan kekerasan terhadap fasilitas serta tenaga kesehatan. Sejumlah fasilitas kesehatan tidak dapat beroperasi secara optimal, sementara petugas medis, penggali kubur, dan pengangkut jenazah dilaporkan menjadi sasaran kemarahan warga. Serangan terhadap rumah sakit dan pusat penanganan Ebola juga menyebabkan sejumlah pasien melarikan diri, sehingga dikhawatirkan memperluas penularan. Di sisi lain, tenaga kesehatan melakukan mogok kerja karena belum menerima gaji dan kompensasi, meski tetap bekerja dalam kondisi berisiko tinggi.
WHO menyebut wabah kali ini berkembang sangat cepat dan menjadi penyebaran Ebola terbesar ketiga dalam sejarah, dengan sebagian besar kematian terjadi pada warga yang tidak memperoleh layanan kesehatan. Gejala Ebola meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, sakit tenggorokan, hingga muntah, diare, dan komplikasi kegagalan organ pada kasus berat. Wabah juga dilaporkan telah menyebar hingga Uganda dan Rwanda, mendorong sejumlah negara meningkatkan kewaspadaan. Kanada bahkan membatasi masuknya orang asing yang dalam 21 hari terakhir bepergian dari Kongo, sementara WHO terus memantau perkembangan wabah dan dampaknya terhadap kawasan.
