Dramaturgi Politik: TNI, Polri, Kejaksaan Saling Sandera, Publik Kena Olah

Kasus dugaan korupsi yang melibatkan Febrie Adriansyah dinilai telah memperlihatkan ketegangan antara TNI, Polri, dan Kejaksaan. Dimulai dengan peristiwa penggeledahan di berbagai lokasi, penyitaan uang dan emas dalam jumlah besar, serta penjagaan bersenjata di rumah pejabat memperlihatkan bagaimana institusi saling melindungi dan saling menyandera. Bukti yang sangat konkret justru tidak diikuti dengan kejelasan status hukum, melainkan kabut saling bantah dan tuding antar-elite.

Adanya pola bantah-membantah yang seragam, di mana setiap institusi menutup diri dan defensif ketika terancam. Pola ini bukan kebetulan, melainkan naluri institusional untuk membentengi diri. Situasi ini menimbulkan kekaburan yang rawan dimanfaatkan untuk manipulasi persepsi publik, sehingga masyarakat kehilangan kemampuan membedakan penegakan hukum murni dari manuver politik berbaju hukum.

Presiden Prabowo sempat memberi teguran moral agar aparat introspeksi, namun teguran itu dinilai terlalu umum dan tidak menjawab inti persoalan. Fenomena ini disebut sebagai constitutional hardball, yakni penggunaan kewenangan sah untuk menghalangi kerja institusi lain. Akibatnya, demokrasi digerogoti perlahan oleh elite yang saling menjegal sekaligus saling melindungi. Publik pun dibiarkan menebak-nebak siapa menyandera siapa, sementara kejelasan hukum terus tertunda.

Search