Defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 dinilai membayangi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek. Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan defisit sebesar 1,61 miliar dollar AS. Defisit pada Mei 2026 terutama dipicu oleh lonjakan defisit sektor minyak dan gas (migas), seiring meningkatnya nilai impor migas yang jauh melampaui ekspornya.
Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai defisit neraca perdagangan memberi sentimen yang kurang baik bagi investor dalam jangka pendek hingga menengah. Tekanan itu tidak lepas dari implementasi kebijakan ekspor satu pintu yang sempat membuat sejumlah pelaku usaha menunda produksi. Meski demikian, Faris menilai dampak terhadap IHSG kemungkinan hanya akan terasa dalam jangka pendek.
Untuk jangka menengah, Faris memproyeksikan indeks bergerak cenderung sideways dengan rentang yang cukup lebar. Proyeksinya, area 5.300-5.400 akan menjadi support, sedangkan level 6.000-6.200 menjadi area resistance. Defisit neraca perdagangan juga memperbesar tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Pada penutupan perdagangan Kamis sore, kurs rupiah melemah 43 poin atau 0,24 persen ke level Rp 17.995 per dollar AS. Pelemahan mata uang Garuda berpotensi membebani kinerja pasar saham.
