Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mungkin telah mereda, tetapi dampaknya terhadap perekonomian global diperkirakan masih akan terasa dalam beberapa tahun ke depan. Menurut analisis Bloomberg Economics, Senin (6/7/2026), bank sentral di berbagai negara diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level lebih tinggi hingga 2028 dibandingkan proyeksi sebelum konflik di Timur Tengah pecah. Bloomberg Economics memperkirakan jalur suku bunga global dapat bertahan hingga 0,5 poin persentase lebih tinggi daripada perkiraan sebelum perang.
Kondisi tersebut dipicu lonjakan inflasi akibat terganggunya pasokan energi selama perang. Lembaga tersebut menyebut dampak kenaikan biaya energi masih terus mengalir ke harga barang dan jasa. Selain itu, meningkatnya investasi di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) juga dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap inflasi dalam jangka menengah.
Di Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75 persen hingga akhir 2026. Penurunan suku bunga baru diperkirakan mulai terjadi pada paruh pertama 2027 apabila tekanan inflasi mereda dan produktivitas ekonomi meningkat. Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) masih berpeluang menaikkan suku bunga sekali lagi sebelum kembali melonggarkan kebijakan.
