Dampak blokade Selat Hormuz telah dirasakan sektor penerbangan global, yang ditandai batalnya ratusan penerbangan akibat lonjakan tajam harga bahan bakar. Maskapai besar Eropa seperti Lufthansa dan KLM terpaksa mengurangi operasional. Lufthansa melalui anak usahanya, Lufthansa CityLine, menangguhkan operasi mulai Sabtu, sementara KLM membatalkan sekitar 160 penerbangan dalam sebulan ke depan. Harga bahan bakar jet dilaporkan hampir dua kali lipat sejak konflik militer Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pecah, memaksa maskapai dunia mengurangi rute, menaikkan tarif, serta menambah biaya tambahan bahan bakar dan bagasi.
Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan Eropa kemungkinan hanya memiliki cadangan bahan bakar jet sekitar enam minggu jika gangguan pasokan terus berlanjut. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyebut situasi ini sebagai krisis energi terbesar yang pernah dihadapi dunia, dengan dampak berupa lonjakan harga bensin, gas, dan listrik serta tekanan inflasi global. Negara-negara Asia yang sangat bergantung pada energi Timur Tengah seperti Jepang, Korea Selatan, India, China, Pakistan, dan Bangladesh diperkirakan menjadi wilayah yang pertama merasakan dampak paling berat sebelum krisis meluas ke Eropa dan Amerika.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menegaskan blokade terhadap pelabuhan Iran di Selat Hormuz akan berlangsung selama diperlukan. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan angkatan laut AS akan mencegah seluruh pengiriman barang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran, sementara Presiden Donald Trump memperingatkan tindakan tegas terhadap kapal yang mencoba menerobos blokade. Ketegangan meningkat setelah laporan intelijen AS menyebut China berencana memasok sistem pertahanan udara baru kepada Iran, memperbesar potensi eskalasi konflik di kawasan strategis tersebut.
