Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, menilai kenaikan harga BBM dan LPG nonsubsidi paling membebani masyarakat kelas menengah. Menurut dia, tekanan terbesar dirasakan dari lonjakan harga LPG nonsubsidi yang selama ini digunakan oleh mayoritas rumah tangga kelompok ini. Faisal mengatakan kenaikan ini langsung memukul pengeluaran harian kelas menengah. Sementara itu, dampak kenaikan BBM nonsubsidi relatif terbatas bagi kelas menengah. Pasalnya, jenis BBM yang mengalami kenaikan signifikan adalah BBM dengan spesifikasi tinggi, seperti RON 98 ke atas, yang umumnya dikonsumsi kalangan atas. Secara keseluruhan, kata Faisal, kenaikan harga energi akan menekan daya beli kelas menengah dan berimbas pada sektor produksi. Hal ini karena konsumsi kelompok menengah menjadi penopang utama aktivitas ekonomi.
