Hubungan kerja sama antara China dan Kuba semakin menguat di tengah situasi sulit yang melanda negara Karibia tersebut. Pemerintah China menyalurkan bantuan beras sebanyak 15.000 ton untuk membantu Kuba yang saat ini tengah didera krisis ekonomi dan kelangkaan energi. Bantuan tersebut mendarat di pelabuhan Havana pada Minggu (24/5/2026). Pasokan ini merupakan bagian dari total 60.000 ton beras yang dijanjikan oleh pemerintah Beijing untuk membantu Kuba mengatasi kelangkaan pangan yang parah. Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyambut baik dukungan dari sekutu dekatnya tersebut.
Kedatangan bantuan pangan dari China ini juga bertepatan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik antara Beijing dan Washington yang menyeret nama Kuba. Pada pekan lalu, pemerintah China secara terbuka mengecam keputusan AS yang mendakwa mantan pemimpin Kuba, Raul Castro. AS menjatuhkan dakwaan terhadap Castro atas insiden penembakan jatuh pesawat yang terjadi pada tahun 1996 silam.
Kuba telah berada di bawah embargo perdagangan Amerika Serikat (AS) sejak 1962. Kebijakan Washington ini kerap dituding sebagai penyebab utama kelangkaan bahan pangan serta obat-obatan di negara tersebut. Ekonomi Kuba kian memburuk sejak Januari lalu, setelah negara itu berhenti menerima pasokan minyak dari Venezuela. Tidak hanya itu, AS juga mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada pihak mana pun yang menjual minyak ke Kuba. Blokade energi yang efektif ini memperparah masalah pemadaman listrik massal yang sudah lama menyengsarakan warga Kuba.
