CDS RI Naik Hampir 30% YtD, Investor Asing Masih Belum Percaya pada Prospek Ekonomi

Premi risiko Indonesia meningkat cukup tajam pada awal Juli 2026, tercermin dari CDS tenor lima tahun yang mencapai 89,44 atau naik 29,82% secara year to date (YtD), sedangkan CDS tenor 10 tahun meningkat 28,32% menjadi 143,50. Kenaikan tersebut menunjukkan investor meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk berinvestasi di Indonesia, meskipun kondisi ini dinilai belum mencerminkan persoalan solvabilitas karena Indonesia masih berstatus investment grade dan memiliki cadangan devisa yang relatif kuat.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai investor asing masih tertarik pada instrumen berimbal hasil tinggi seperti SRBI dan SBN, tetapi arus dana yang masuk lebih banyak berupa investasi portofolio jangka pendek. Investor semakin mempertimbangkan real yield, risiko pelemahan rupiah, inflasi, dan biaya lindung nilai, sehingga kenaikan suku bunga dinilai baru mampu menjaga arus modal sementara, tetapi belum cukup membangun kepercayaan terhadap prospek ekonomi jangka panjang Indonesia.

Kehati-hatian investor juga dipengaruhi sejumlah indikator domestik, seperti kontraksi PMI manufaktur, menyempitnya surplus perdagangan, dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Apabila tekanan premi risiko berlangsung lama dan terjadi pembalikan arus modal asing, rupiah berpotensi semakin tertekan, inflasi impor meningkat, suku bunga bertahan tinggi, serta biaya pembiayaan pemerintah dan dunia usaha menjadi lebih mahal. Oleh karena itu, stabilisasi jangka pendek perlu dibarengi penguatan fundamental ekonomi untuk memulihkan kepercayaan investor.

Search