BAGI sebagian orang, kereta cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh mungkin menjadi solusi ketika harus pergi dari Jakarta ke Bandung atau sebaliknya. Dengan waktu tempuh 45 menit, moda angkutan canggih ini bisa menolong mereka yang terburu-buru atau mendadak harus menempuh perjalanan antara dua kota ini dalam waktu sesingkat mungkin. Jika sudah begitu, harga tiket Whoosh yang lebih mahal dibanding angkutan lain pun bakal sepadan. Namun, bagi pemerintah, proyek warisan pemerintahan Joko Widodo ini menyisakan persoalan. Salah satu sebabnya adalah biaya operasi moda angkutan ini sangat besar, sementara pendapatan dari tiket tak cukup untuk menutupinya. Untuk menyelesaikan persoalan Whoosh, pemerintah kemudian menugasi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara. Lembaga ini menyusun program restrukturisasi utang Whoosh, terutama yang muncul dari pembangunan prasarana rel, terowongan, persinyalan, stasiun, dan hal lainnya. Dengan Danantara turun tangan, sebagai induk BUMN, pemerintah berharap utang Whoosh perlahan bisa dibereskan. Atau setidaknya bisa dinegosiasikan termin pembayaran maupun cicilan bunga dan pokoknya. Namun, besarnya utang Whoosh bisa menyedot kas Danantara dalam jumlah besar. Peluang sovereign wealth fund ini untuk menyalurkan dana investasi maupun ekspansi BUMN kian tipis.