Badan Pusat Statistik (BPS) menilai fenomena “rojali” atau rombongan jarang beli belum tentu mencerminkan kemiskinan, namun tetap penting dipantau sebagai sinyal tekanan ekonomi, terutama di kalangan masyarakat rentan. Fenomena ini mengacu pada kecenderungan masyarakat yang ramai mengunjungi pusat perbelanjaan, namun tidak melakukan transaksi pembelian apapun. Istilah ini belakangan mencuat dan menjadi perbincangan luas di media sosial. Mengacu pada Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025, Ateng mengungkapkan bahwa kelompok atas mulai menahan laju konsumsinya. Namun, perubahan ini belum berdampak langsung pada angka kemiskinan karena masih terbatas pada segmen tertentu.Meski demikian, Ateng menekankan pentingnya membaca “rojali” sebagai gejala ekonomi, bukan semata kebiasaan sosial.