BPI Danantara mengungkap potensi kerugian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencapai Rp50 triliun per tahun. Angka itu berasal dari kerugian langsung sebesar Rp20 triliun dan tidak langsung Rp30 triliun. Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria mengungkap kerugian tak langsung perusahaan pelat merah terjadi akibat inefisiensi yang terjadi di tubuh BUMN dan anak-anak usahanya.
Melihat hal itu, sambung Dony, pemerintah melalui Danantara ingin mengonsolidasikan BUMN agar kinerjanya lebih efisien. Dari 1.000 lebih BUMN dan anak-anaknya yang beroperasi saat ini akan dipangkas menjadi hanya 300-an. Konsolidasi yang dilakukan bisa berupa merger antarperusahaan hingga penutupan perusahaan. Kendati demikian, Dony menjamin bahwa pihaknya tidak akan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mengingat akan menguras energi dan waktu, proses konsolidasi akan dilakukan satu per satu.
Danantara juga menerapkan langkah serupa pada Garuda Indonesia dan Citilink sebagai bagian dari pembenahan menyeluruh. Hasilnya, seluruh anak usaha Garuda telah berada dalam kondisi ekuitas positif. “Citilink yang last year rugi signifikan, tahun ini di dalam forecasting-nya dan saya harapkan nanti mereka akan positif, next year itu kurang lebih US$6 juta sampai US$9 juta dalam forecasting, dalam business plan yang sudah kita buat, ” ujar Donny.
