Bos BI Rayu Eksportir Parkir Devisa Pakai Yuan China

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mendorong eksportir mulai menempatkan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) menggunakan mata uang non-dolar AS, termasuk yuan China. Langkah itu dilakukan seiring perluasan instrumen penempatan devisa yang kini tidak lagi terbatas pada dolar AS.

BI memperluas instrumen penempatan dan pemanfaatan DHE SDA agar dana devisa eksportir bisa lebih optimal digunakan di dalam negeri. Menurut Perry, selama ini penempatan DHE SDA dilakukan melalui rekening khusus dalam valuta asing dan instrumen perbankan. Kini, BI juga membuka opsi penggunaan instrumen term deposit baik dari eksportir ke bank maupun dari bank ke BI.

Perry menjelaskan perluasan penggunaan mata uang non-dolar dilakukan karena transaksi perdagangan Indonesia dengan China terus meningkat, terutama melalui skema local currency transaction (LCT). Ia menyebut transaksi perdagangan menggunakan mata uang lokal dengan China menjadi yang terbesar dibanding negara lain. “Karena local currency transaction kita dengan China itu yang terbesar. Tahun lalu tuh lebih dari US$25 miliar per tahun, tahun ini sebulan itu US$3,7 miliar,” katanya. Menurut dia, eksportir maupun pelaku usaha kini sudah bisa menggunakan yuan untuk berbagai kebutuhan transaksi keuangan di pasar domestik.

Search