Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network tahun 2025 menunjukkan bahwa rokok elektronik (vape) menjadi alat bantu berhenti merokok yang paling banyak digunakan oleh perokok dewasa di Inggris pada periode 2023–2024, dengan tingkat penggunaan sekitar 40 persen. Studi yang dipimpin oleh Sarah E. Jackson menyebutkan bahwa penggunaan vape memiliki peluang keberhasilan lebih tinggi dibandingkan dengan metode lain dalam membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaan merokok.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Amaliya, menilai penggunaan produk tembakau alternatif merupakan bagian dari strategi pengurangan bahaya (harm reduction). Menurutnya, vape dinilai lebih efektif bagi sebagian perokok dewasa karena dapat meniru aspek perilaku merokok, memungkinkan pengaturan asupan nikotin secara bertahap, serta membantu mengurangi keinginan untuk kembali merokok. Penelitiannya juga menunjukkan bahwa pengguna produk tembakau alternatif cenderung memiliki kondisi kesehatan gusi yang lebih baik dibandingkan dengan perokok.
Meski demikian, Amaliya menegaskan bahwa produk tembakau alternatif bukanlah produk yang bebas risiko. Ia menekankan pentingnya edukasi yang tepat agar penggunaannya hanya ditujukan bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari rokok konvensional, bukan untuk non-perokok, remaja, atau ibu hamil. Ia juga menekankan bahwa pilihan terbaik bagi kesehatan tetap berhenti sepenuhnya dari penggunaan produk tembakau dan nikotin, serta perlunya kebijakan dan penelitian jangka panjang yang berbasis bukti ilmiah yang objektif dan transparan.
