Bantargebang Kini Disebut Jadi “Bom Waktu” bagi Jakarta

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth, menyoroti kondisi TPST Bantargebang yang disebut menjadi salah satu penyumbang emisi gas metana terbesar di dunia. Ia menilai persoalan sampah Jakarta kini bukan hanya masalah kebersihan kota, tetapi telah berkembang menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan publik. Tingginya produksi sampah harian Jakarta serta sistem pengelolaan yang masih bertumpu pada pola kumpul-angkut-buang membuat Bantargebang terus menjadi titik akumulasi sampah berskala besar.

Kenneth menegaskan Pemprov DKI Jakarta harus segera melakukan revolusi pengelolaan sampah dengan mengurangi ketergantungan pada Bantargebang sebagai tempat pembuangan akhir utama. Ia mendorong penerapan pengurangan sampah dari sumber, pemilahan rumah tangga, penguatan daur ulang, hingga penggunaan teknologi pengolahan modern seperti Refuse Derived Fuel (RDF), waste to energy, dan konversi gas metana menjadi energi. Menurutnya, banyak negara telah berhasil menjadikan sampah sebagai sumber energi dan peluang ekonomi baru yang lebih berkelanjutan.

Sorotan terhadap Bantargebang muncul setelah laporan terbaru dari University of California Los Angeles menempatkan TPST Bantargebang di posisi kedua dunia sebagai lokasi sektor limbah dengan emisi gas metana terbesar. Dalam laporan tersebut, Bantargebang tercatat menghasilkan sekitar 6,3 ton gas metana per jam, hanya berada di bawah TPA Campo de Mayo di Argentina. Emisi tersebut dipantau menggunakan satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan instrumen EMIT NASA sepanjang tahun 2025, dengan dampak pemanasan global yang disebut setara hampir satu juta kendaraan SUV atau satu pembangkit listrik tenaga batu bara besar.

Search