Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump menandatangani perjanjian dagang timbal balik (reciprocal trade agreement) final dengan Taiwan yang menetapkan tarif impor sebesar 15% untuk produk asal Taiwan. Di sisi lain, Taiwan berkomitmen untuk menghapus atau menurunkan tarif atas hampir seluruh barang asal AS secara bertahap. Dokumen yang dirilis oleh Kantor Perwakilan Dagang AS atau Office of the United States Trade Representative pada Kamis (12/2/2026) tersebut juga mengatur peningkatan signifikan pembelian barang-barang asal AS oleh Taiwan sepanjang 2025 hingga 2029.
Dalam perjanjian tersebut, Taiwan berkomitmen meningkatkan impor dari AS, termasuk US$ 44,4 miliar untuk gas alam cair (LNG) dan minyak mentah, US$ 15,2 miliar untuk pesawat sipil dan mesin, serta US$ 25,2 miliar untuk peralatan jaringan listrik, generator, peralatan kelautan, dan industri baja. Kesepakatan ini melengkapi kerangka kerja perdagangan yang telah disepakati pada Januari lalu, yang memangkas tarif atas produk Taiwan—termasuk dari industri semikonduktor andalannya—menjadi 15% dari sebelumnya 20%. Taiwan juga memperoleh pengecualian tarif timbal balik untuk lebih dari 2.000 item produk yang diekspor ke AS. Dengan kebijakan ini, rata-rata tarif atas ekspor AS turun menjadi 12,33%, menurut Presiden Taiwan, Lai Ching-te.
Data U.S. Census Bureau menunjukkan bahwa selama 11 bulan pertama 2025, defisit perdagangan AS dengan Taiwan melonjak menjadi US$ 126,9 miliar, dibandingkan US$ 73,7 miliar sepanjang 2024. Lonjakan defisit tersebut terutama dipicu peningkatan besar impor chip kecerdasan buatan (AI) kelas atas dari Taiwan, yang kini menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global industri semikonduktor. Dengan kesepakatan final ini, pemerintah AS berharap dapat menyeimbangkan hubungan dagang sekaligus memperdalam kemitraan strategis di tengah meningkatnya persaingan teknologi global.
