AS Gempur Iran Sembilan Malam Berturut-turut, Korban Terus Bertambah

Amerika Serikat (AS) melanjutkan serangan militer terhadap Iran untuk malam kesembilan secara berturut-turut pada Minggu (19/7/2026) waktu setempat. Operasi tersebut menjadi bagian dari kampanye yang diklaim Washington bertujuan melemahkan kemampuan militer Teheran dalam menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Perang yang telah berlangsung hampir lima bulan itu terus memakan korban. Pada perkembangan terbaru, jumlah personel militer AS yang tewas sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026 menjadi 17 orang. Sementara itu, otoritas Iran menyatakan sedikitnya 50 orang meninggal dunia dan lebih dari 500 lainnya terluka akibat gelombang serangan terbaru AS yang berlangsung bulan ini.

Serangan dari kedua pihak memicu kekhawatiran bahwa konflik akan kembali berkembang menjadi perang terbuka. Washington dan Teheran saling menuduh telah melanggar kerangka nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) yang disepakati pada Juni lalu untuk meredakan konflik. Dalam beberapa hari terakhir, serangan AS juga meluas hingga menyasar infrastruktur sipil, termasuk fasilitas desalinasi Bonji yang menyebabkan sekitar 10.000 warga kehilangan pasokan air bersih. Di sisi lain, Iran meningkatkan serangan balasan ke berbagai target di kawasan Teluk, termasuk di Bahrain, Arab Saudi, dan Yordania.

Menurut perusahaan intelijen maritim Kpler, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun ke level terendah dalam tiga pekan terakhir. Pada Kamis, hanya delapan kapal yang tercatat melintas, turun dari 15 kapal sehari sebelumnya. Di tengah perlambatan tersebut, harga minyak dunia ikut melonjak. Minyak mentah Brent naik hampir 3 persen menjadi sekitar 90,7 dollar AS per barrel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,5 persen menjadi sekitar 84,6 dollar AS per barrel.

Search