Ibu Kota Iran, Teheran mengalami malam paling mencekam, Selasa (10/3/2026). Teheran telah digempur serangan udara besar-besaran oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel. Serangan brutal dari AS dan Israel ini membuat banyak orang bingung dengan sikap Presiden Donald Trump. Sebab, Trump mengeklaim bahwa operasi militer terhadap Iran sebenarnya sudah “hampir beres”. Trump merasa puas karena menurutnya perang berjalan melampaui target awal. “Kita sudah menang dalam banyak hal, tapi belum cukup,” ujar Trump bernada optimistis.
Namun, pernyataan Trump berbanding terbalik dengan peringatan dari Menteri Pertahanannya sendiri, Pete Hegseth. Hegseth justru menjanjikan serangan yang jauh lebih “ganas” dan intens pada Selasa ini. Ia bahkan menuding pihak Iran menggunakan warga sipil sebagai “perisai manusia” dengan menyembunyikan fasilitas militer di sekolah-sekolah. Di sisi lain, Teheran mengaku tak akan menyerah meski digempur habis-habisan oleh AS dan Israel. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan tegas menolak opsi gencatan senjata jika hanya bersifat sementara. Mereka bahkan mengancam akan terus menutup Selat Hormuz jika AS terus melakukan agresi.
Getaran hebat dilaporkan merambat hingga ke jantung pemukiman warga. Saksi mata melaporkan bahwa intensitas ledakan menyebabkan langit malam Teheran yang gelap seketika berubah menjadi terang benderang seperti siang hari. Tak hanya Teheran, serangan udara ini juga dilaporkan mulai merembet ke kota-kota besar lainnya seperti Isfahan dan Karaj. Selain ancaman nyawa, warga Iran kini harus menghadapi kenyataan pahit lumpuhnya infrastruktur. Pemadaman listrik melanda beberapa titik kota, sementara akses internet nasional masih diputus oleh otoritas setempat selama 11 hari terakhir. Kondisi ekonomi pun kian tercekik.
