Nilai tukar rupiah melemah hingga nyaris menembus Rp17.000 perdolar AS menjadi perhatian serius pelaku pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran soal dampaknya terhadap perekonomian nasional. Kurs rupiah ditutup di level Rp16.956 per dolar AS pada Selasa (20/1) sore. Kondisi ini membuat rupiah berada di level terburuk sepanjang sejarah. Posisi terlemah mata uang Garuda sebelumnya terjadi pada 8 April 2025, saat nilai tukar Rp16.891 per dolar AS.
Ekonom menilai kondisi ini memang belum masuk kategori krisis. Namun, tetap membawa konsekuensi nyata bagi perekonomian jika tren pelemahan berlangsung berkepanjangan. Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menilai dampak pelemahan rupiah sudah mulai terasa, terutama bagi sektor-sektor yang bergantung pada impor dan pembiayaan berbasis valuta asing. Tekanan juga berpotensi menjalar ke inflasi apabila tidak segera direspons dengan kebijakan yang tepat. Jika rupiah menembus Rp17 ribu per dolar AS, dampak yang paling cepat dan langsung dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga barang impor. Itu termasuk barang yang sangat tergantung bahan baku impor, yakni mencakup bahan pangan tertentu, obat-obatan, alat kesehatan, elektronik, hingga BBM dan LPG. Namun, Ronny menyebut kenaikan biaya hidup ini tidak diikuti kenaikan pendapatan. Masyarakat mungkin tidak sadar kurs rupiah loyo, tapi mereka sangat sadar saat harga beras impor, gula, daging, ongkos transportasi, dan listrik terasa makin mahal.
