Guru Besar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Hikmahanto Juwana, menyatakan bahwa Iran siap menghadapi serangan darat yang akan dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS). Ia menyebut, kesiapan menghadapi pasukan AS juga telah disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Iran dan telah menunggu serangan darat dari AS. Pasalnya, sejauh ini perang dari kedua belah pihak berasal dari serangan udara.
Diberitakan sebelumnya, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) tengah mempersiapkan operasi darat di Iran yang diperkirakan berlangsung selama beberapa minggu. Operasi darat itu tidak akan berupa invasi skala penuh, melainkan melibatkan serangan oleh pasukan operasi khusus dan infanteri konvensional. Operasi tersebut, berpotensi mencakup serangan terhadap Pulau Kharg dan wilayah pesisir di sekitar Selat Hormuz. Laporan ini muncul seiring pengumuman militer AS mengenai kedatangan pasukan tambahan di Timur Tengah yang berjumlah sekitar 3.500 personel bersama pesawat angkut, pesawat tempur serang, serta berbagai aset serbu amfibi dan taktis. Militer AS juga diperkirakan akan mengerahkan ribuan tentara tambahan dari Divisi Lintas Udara ke-82.
Menteri Luar Negeri Mesir, Pakistan, Arab Saudi, dan Turki dijadwalkan bertemu di Islamabad pada Senin (30/3/2026) dalam pembicaraan darurat yang bertujuan menghentikan serangan AS dan Israel di Iran. Pakistan muncul sebagai mediator utama antara AS dan Iran, dengan menyampaikan proposal Amerika yang terdiri dari 15 poin dan didukung oleh Presiden AS Donald Trump. Proposal tersebut, mencakup tuntutan pembongkaran penuh program nuklir Iran, pembatasan persenjataan rudal, serta pengendalian efektif Selat Hormuz. Iran telah meninjau proposal tersebut dan menilai bahwa isinya lebih menguntungkan kepentingan AS dan Israel. Meski demikian, pejabat Iran menegaskan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
