Aksi Agresi Trump Belum Berakhir, Bersumpah Akan ‘Ambil Alih’ Kuba

Aksi ‘agresi’ Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke negara lain belum berakhir. Dalam pernyataan terbarunya pada Senin (16/3) kemarin, Trump bersumpah untuk ‘menaklukkan’ Kuba ketika negara itu terperosok ke dalam kegelapan akibat pemadaman listrik total karena embargo minyak yang diberlakukan Washington. “Saya yakin saya akan…mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Washington DC. Itu adalah salah satu ancaman paling eksplisit yang dikeluarkan Trump terhadap negara di kepulauan Karibia tersebut.

Sistem pembangkit listrik Kuba yang sudah tua berada dalam kondisi yang buruk. Pemadaman listrik harian hingga 20 jam menjadi hal biasa di beberapa bagian pulau, yang kekurangan bahan bakar yang dibutuhkan untuk menghasilkan listrik. Semenjak AS menggulingkan sekutu utama Kuba, Maduro dari Venezuela pada awal Januari lalu, perekonomian Kuba semakin terpukul karena Trump mempertahankan blokade minyak de facto. Tidak ada minyak yang diimpor ke Kuba sejak 9 Januari. Hal itu menjadi sebuah pukulan bagi sektor pariwisata yang sangat penting.

Pemadaman listrik, serta kekurangan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya yang terjadi secara berkala, memicu frustrasi warga Kuba. Pemerintah Kuba telah membatasi penjualan bensin dan beberapa layanan rumah sakit karena kekurangan bahan bakar. Selain itu, Diaz-Canel mengakui pekan lalu bahwa pemerintahnya telah mengadakan pembicaraan dengan AS. Trump menuduh blokade bahan bakar tersebut sebagai respons terhadap “ancaman luar biasa” yang ditimbulkan Kuba terhadap Amerika Serikat. Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa Kuba “ingin membuat kesepakatan”, yang bisa segera terwujud setelah pemerintahannya menyelesaikan perang melawan Iran.

Search