Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, masih hidup atau sudah tewas. Ketidakpastian ini membuat Washington berada dalam posisi sulit untuk menentukan langkah diplomasi. Garda Revolusi Iran secara resmi mengancam akan menargetkan perusahaan-perusahaan milik Amerika Serikat yang beroperasi di seluruh wilayah Timur Tengah. Ketegangan fisik meningkat pada Senin (17/03/2026), ketika sebuah proyektil menghantam atap sebuah hotel di Zona Hijau Baghdad, Irak, yang merupakan kawasan diplomatik ketat tempat Kedutaan Besar AS berada. Di tempat lain, serangan pesawat nirawak atau drone menyebabkan kebakaran hebat di ladang minyak utama milik Uni Emirat Arab (UEA).
Raksasa energi milik negara UEA, ADNOC, dilaporkan telah menghentikan proses pemuatan minyak ke tangki penyimpanan di fasilitas Fujairah. Langkah ini diambil menyusul serangan berulang yang menargetkan instalasi energi di pelabuhan strategis tersebut. Donald Trump mendesak sekutu-sekutu Amerika Serikat untuk bergabung dalam upaya mengamankan Selat Hormuz. Trump meminta antusiasme lebih dari negara-negara lain, meskipun kekuatan Eropa sejauh ini menolak misi NATO untuk membuka kembali jalur air tersebut. Di perbatasan Utara, kelompok Hezbollah menyatakan telah menargetkan pasukan dan kendaraan militer Israel di tiga kota perbatasan Lebanon. Serangan ini merupakan respons atas pengumuman militer Israel yang memulai operasi darat terbatas di wilayah Lebanon.
Dampak kemanusiaan di Lebanon kian memprihatinkan dengan laporan pihak berwenang yang menyebut lebih dari satu juta orang telah terdaftar sebagai pengungsi dan jumlah korban tewas telah melonjak menjadi 886 orang. Di Irak, kelompok bersenjata kuat Kataeb Hezbollah mengumumkan kematian komandan keamanan senior mereka, Abu Ali al-Askari. Al-Askari. Di wilayah barat Irak, sebuah serangan di dekat perbatasan Suriah menewaskan sedikitnya empat pejuang dari koalisi paramiliter Hashed al-Shaabi. Pejabat Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) langsung melontarkan tuduhan kepada Amerika Serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan yang menyasar pos pemeriksaan tersebut.
