Militer AS melakukan serangan baru di Iran pada Kamis (28/5) pagi. Serangan itu menargetkan lokasi di sekitar Selat Hormuz yang dinilai menimbulkan ancaman bagi pasukan AS dan lalu lintas komersial. Militer AS menembak jatuh empat drone Iran. Pasukan AS juga dilaporkan menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang hendak meluncurkan drone kelima. Tindakan militer AS ini merupakan kali kedua dalam tiga hari AS menyerang target di Iran. Iran mengecam serangan tersebut sebagai “pelanggaran serius terhadap gencatan senjata” dan berjanji bahwa pemerintah Iran “tidak akan membiarkan satu pun tindakan permusuhan tanpa balasan.” Merespons serangan AS, militer Iran dilaporkan melepaskan tembakan peringatan ke kapal-kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Media Iran menyebut serangan ini merupakan respons atas serangan militer AS yang menargetkan lokasi di sekitar Selat Hormuz pada Kamis pagi.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menggunakan kekuatan militer terhadap Oman jika negara tersebut berkolaborasi dengan Iran untuk memperkuat kendali atas Selat Hormuz. Ia mengancam akan memperlakukan Oman seperti negara lain atau “meledakkannya”. Hal itu disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan reporter dalam rapat kabinet pada Rabu (27/5) waktu AS. Awalnya, seorang reporter meminta Trump memberikan pendapatnya tentang gagasan Oman dan Iran mengawasi perdagangan di Selat Hormuz, yang menangani lebih dari 20 persen lalu lintas minyak global dunia. Merespons ancaman Trump kepada Oman, Iran menyatakan solidaritas terhadap Oman. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan solidaritasnya dengan Oman setelah adanya “ancaman dari pejabat AS”.
