Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan telah berdampak luas hingga ke kawasan Borneo Malaysia, Brunei, dan Filipina. Polusi udara yang mencapai tingkat berbahaya ini memicu lonjakan drastis penderita penyakit pernapasan, infeksi paru-paru, hingga iritasi mata. Sejumlah warga, seperti bayi berusia 10 bulan di Kuching serta penderita asma di Kuala Lumpur, terpaksa mendapatkan penanganan medis intensif akibat sesak napas akut di tengah kualitas udara yang buruk.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Malaysia pada akhir Agustus, kasus asma melonjak tajam menjadi 1.811 kasus dan kasus konjungtivitis meningkat hingga 720 kasus dalam sepekan. Kondisi serupa juga dirasakan di Filipina, di mana kabut asap lintas batas menyelimuti wilayah Metro Manila dan sekitarnya. Hal ini mendorong Pemerintah Kota Quezon untuk menghentikan sementara pembelajaran tatap muka setelah sensor kualitas udara mencatat Indeks Kualitas Udara (AQI) masuk dalam kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Menghadapi situasi darurat ini, pemerintah setempat bersama para pejabat kota mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan, untuk membatasi aktivitas luar ruangan. Warga juga diwajibkan menggunakan masker pelindung saat beraktivitas demi menghindari paparan polusi udara beracun yang bersumber dari kabut asap karhutla tersebut.
