Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memetakan 14 zona megathrust di Indonesia, dengan tiga zona utama yang dipantau ketat karena sudah lama tidak melepaskan energi besar, yaitu Mentawai-Siberut, Selat Sunda, dan Sumba. Menurut pakar geologi UGM, Gayatri Indah Marliyani, megathrust merupakan zona patahan besar di batas lempeng tektonik yang bersifat sebagai potensi dan bukan prediksi waktu kejadian. Pakar kebencanaan menekankan bahwa fokus utama seharusnya bukan bertanya kapan gempa besar itu terjadi, melainkan kesiapan masyarakat dan pemerintah menghadapi risikonya.
Dari sisi mitigasi, Ketua Umum MPBI Avianto Amri menyoroti kurangnya kesiapan Indonesia yang tercermin dari rendahnya alokasi anggaran pencegahan, padahal investasi mitigasi dapat menghemat biaya kerugian jauh lebih besar. Peneliti BRIN, Nuraini Rahma Hanifa, menambahkan bahwa langkah antisipasi harus mencakup penguatan struktur bangunan publik seperti sekolah dan rumah sakit melalui retrofitting, edukasi dan simulasi evakuasi berkala bagi warga di zona rawan, serta peningkatan teknologi sensor peringatan dini bawah laut yang lebih canggih.
Meski rangkaian gempa yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia belakangan ini kerap dikaitkan dengan megathrust, para ahli menegaskan bahwa sumber tektoniknya bisa berbeda, seperti aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau deformasi intraslab. Kendati gempa bumi tidak dapat dihentikan, para ahli sepakat bahwa dampaknya dapat diminimalkan secara signifikan jika masyarakat memahami risiko, memiliki bangunan yang aman, tata ruang yang baik, serta kesiapsiagaan yang optimal.
