Mengenal Desa Adat Sade yang Terbakar, Kampung Suku Sasak Bertahan 15 Generasi

Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, merupakan salah satu kampung tradisional Suku Sasak yang telah dihuni dan bertahan hingga 15 generasi. Kampung yang menjadi salah satu dari 21 dusun di Desa Rembitan ini dipimpin oleh seorang kepala dusun yang disebut Jero Keliang. Sejak dikunjungi wisatawan asing pada 1983, Sade berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang terkenal, sebelum mengalami kebakaran pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026.

Keunikan Desa Adat Sade terletak pada kehidupan masyarakatnya yang masih mempertahankan tradisi leluhur dan arsitektur tradisional Sasak. Terdapat sekitar 100 bangunan dengan dua jenis bangunan utama, yakni Bale Tani sebagai tempat tinggal dan Lumbung sebagai tempat penyimpanan hasil panen. Rumah-rumah tersebut menggunakan bahan tradisional seperti kayu, anyaman bambu, dan atap alang-alang, sementara lantainya dibuat dari campuran tanah, getah pohon, dan abu jerami serta dirawat menggunakan cara-cara tradisional.

Selain arsitektur dan tradisi, Desa Adat Sade juga dikenal melalui seni tari dan kerajinan tenun khas Lombok yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Produk tenun seperti kain songket, sarung, selendang, dan taplak meja turut memberikan manfaat ekonomi tidak hanya bagi warga Sade, tetapi juga bagi masyarakat di dusun dan desa sekitarnya. Keberadaan Desa Adat Sade menjadi salah satu simbol penting pelestarian budaya Sasak di Lombok, sehingga musibah kebakaran menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan warisan budaya yang telah dijaga secara turun-temurun.

Search