Gempa bumi dahsyat yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyebabkan kerusakan parah pada rumah warga dan fasilitas permukiman, khususnya di wilayah pesisir. Warga Desa Nangadhero melaporkan rumah-rumah tergenang dan rusak akibat naiknya air laut, sementara perahu-perahu nelayan mengalami kerusakan bahkan hilang. Di Kolikapa, sejumlah rumah berstruktur tembok dilaporkan rusak berat hingga roboh. Meski demikian, sejumlah warga yang menjadi saksi menyampaikan bahwa keluarga mereka dalam kondisi aman.
Kondisi pengungsian masih sangat terbatas. Sebagian besar warga membangun tenda secara swadaya, sementara baru tersedia satu tenda resmi BNPB di Dadiwuwu, Kelurahan Lape, yang digunakan bersama oleh warga Mbai 1 dan Nangadhero. Karena keterbatasan kapasitas, tenda diprioritaskan bagi kelompok rentan seperti ibu-ibu yang sakit dan anak-anak, sedangkan warga lainnya harus tidur di ruang terbuka dengan fasilitas seadanya. Untuk memenuhi kebutuhan makan, warga secara gotong royong mendirikan dapur dan tungku darurat di lokasi pengungsian.
Selain kebutuhan pangan dan tenda, pengungsi menghadapi keterbatasan air bersih dan fasilitas sanitasi/MCK. Meskipun bantuan sembako mulai berdatangan, banyak toko dan kios di sekitar lokasi bencana tutup sehingga akses terhadap kebutuhan pangan tambahan masih terbatas. Warga berharap pemerintah dan lembaga terkait segera menambah tenda pengungsian, pasokan air bersih, serta toilet portable untuk memenuhi kebutuhan dasar sekaligus mencegah munculnya masalah kesehatan di lokasi pengungsian.
