Indeks literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia mengalami peningkatan pada 2026. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, Indeks Literasi Keuangan nasional mencapai 69,57%, naik 2,93 poin persentase dibandingkan dengan 2025 yang sebesar 66,64%. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, indeks literasi keuangan dibentuk berdasarkan lima parameter, yakni pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku keuangan. Masyarakat yang memenuhi seluruh parameter tersebut dikategorikan sebagai well-literate.
Peningkatan literasi terlihat di perkotaan (90,39 %) dan perdesaan (64,42 %) dengan keragaman gender yang hampir seimbang (laki‑laki 69,54 %, perempuan 69,61 %); literasi keuangan konvensional 69,57 % versus syariah 43,07 %. Indeks Inklusi Keuangan mencapai 93,61 %, didorong oleh kenaikan inklusi konvensional hingga 93,53 %; kelompok usia produktif 26‑35 tahun memiliki tingkat tertinggi 96,27 %, sementara usia 15‑17 dan 51‑79 tahun masih di bawah rata‑rata nasional.
