Meskipun Human Papillomavirus (HPV) umumnya diidentikkan dengan kanker serviks pada perempuan, infeksi menular seksual ini juga berisiko bagi laki-laki. Virus HPV dapat menyebabkan timbulnya kutil kelamin hingga berbagai jenis kanker pada pria, seperti kanker anus, penis, mulut, dan tenggorokan (orofaring). Selain itu, laki-laki yang terinfeksi dapat bertindak sebagai pembawa (carrier) yang berpotensi menularkan virus kepada pasangan seksualnya.
Sebagai langkah pencegahan, Kementerian Kesehatan mulai memperkenalkan pemberian vaksin HPV bagi siswa laki-laki kelas 5 SD (sekitar usia 11 tahun) di tiga provinsi, yaitu DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali. Kebijakan ini sejalan dengan target WHO untuk mencapai cakupan vaksinasi sebesar 90% pada anak-anak sebelum usia 15 tahun pada 2030, serta mengikuti jejak negara-negara seperti Australia, Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat yang telah menerapkan program serupa.
Penerapan vaksinasi HPV secara luas dibuktikan efisien tidak hanya dari sudut pandang medis, tetapi juga dari sudut pandang ekonomi. Program imunisasi ini dinilai mampu menekan risiko kanker dan mengurangi beban biaya kesehatan jangka panjang. Namun, keberhasilan program nasional ini masih menghadapi beberapa tantangan utama, di antaranya rantai distribusi vaksin hingga wilayah terpencil, edukasi masyarakat, keberlanjutan anggaran, serta upaya menjangkau anak-anak di luar sistem sekolah.
