Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia tidak perlu terlalu khawatir dengan kualitas pendidikan Singapura yang lebih baik, meskipun skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia masih tergolong rendah. Prabowo menyoroti bahwa tingkat kesulitan yang dihadapi kedua negara sangat berbeda, mengingat Singapura hanya merupakan satu kota dengan populasi sekitar 5–6 juta jiwa, sehingga menteri pendidikannya bahkan bisa berkeliling mengecek seluruh sekolah hanya dalam waktu sekitar 2 jam.
Sebaliknya, tantangan pendidikan di Indonesia jauh lebih kompleks karena pemerintah harus mengelola sekitar 388.000 sekolah yang tersebar luas, termasuk di pulau-pulau terpencil dan area pegunungan. Oleh karena itu, Prabowo menilai kinerja Menteri Pendidikan di Indonesia tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan Menteri Pendidikan Singapura. Beban geografis dan skala tata kelola yang luar biasa ini bahkan juga dirasakan oleh para kepala dinas pendidikan di berbagai daerah.
Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa besarnya tantangan geografis dan jumlah sekolah tersebut bukanlah alasan bagi Indonesia untuk mewajarkan ketertinggalan. Menurutnya, perbedaan realitas dan tingkat kesulitan ini disampaikan bukan sebagai dalih, melainkan sebagai pijakan realistis agar Indonesia tetap berjuang keras mengejar ketertinggalan dan memberikan pendidikan terbaik bagi seluruh rakyatnya.
