Menjaga Hutan, Merawat Ingatan Ekologis

Hari Konservasi Alam Sedunia yang diperingati setiap 28 Juli menjadi momentum penting di tengah krisis iklim global seperti gelombang panas ekstrem, kebakaran hutan, dan bencana hidrometeorologi. Meskipun teknologi rendah karbon dan regulasi ketat terus didorong, akar masalah lingkungan juga bersumber dari melonggarnya kebiasaan manusia dalam hidup berdampingan dengan alam. Oleh karena itu, keberhasilan konservasi membutuhkan fondasi sosial yang kuat, di mana nilai-nilai kepedulian lingkungan diajarkan serta dipraktikkan sebagai proses belajar sosial sejak dini.

Pentingnya peran masyarakat adat dan komunitas lokal makin diakui secara global dalam menjaga ekosistem. Praktik budaya lokal—seperti tradisi besialang masyarakat adat Batin Telisak di Jambi, cultural burning Aborigin di Australia, dan Indigenous Guardians di Kanada—membuktikan bahwa pengetahuan tradisional yang diwariskan lintas generasi mampu menjaga kelestarian alam tanpa bergantung penuh pada pengawasan negara. Melalui pengalaman langsung di lapangan, menjaga ekosistem menjadi bagian dari cara hidup yang tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat.

Namun, pewarisan pengetahuan lokal kini terancam oleh perubahan sosial, teknologi, dan renggangnya hubungan generasi muda dengan alam. Untuk mengatasinya, program Perhutanan Sosial hadir tidak hanya untuk membuka akses kelola hutan dan kesejahteraan, melainkan juga sebagai ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan tradisi lokal. Dengan mengintegrasikan pengetahuan ini ke dalam pendidikan formal maupun nonformal, konservasi dapat terus bertahan hidup dalam kebudayaan setiap generasi.

Search