Sudah Sepekan Tinggi Muka Air Bendung Katulampa di Titik Nol

Debit Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa, Kota Bogor, Jawa Barat, menyusut hingga mencapai titik 0 sentimeter selama sepekan terakhir. Kondisi ini menjadi periode terlama yang terpantau tahun ini, setelah dalam dua tahun sebelumnya penyusutan serupa hanya berlangsung satu hingga dua hari. Minimnya curah hujan di wilayah hulu selama sekitar dua bulan terakhir menjadi salah satu penyebab utama. Meski debit air menyusut, Bendung Katulampa yang telah beroperasi sejak 1911 tetap berfungsi sebagai pemantau dan sistem peringatan dini aliran Sungai Ciliwung menuju Jakarta.

Surutnya sungai dimanfaatkan warga untuk beraktivitas di sekitar Bendung Katulampa dan Pulo Geulis. Anak-anak bermain, mandi, memancing, dan mencari ikan di aliran sungai yang dangkal, sementara warga lainnya beraktivitas di dasar sungai yang mengering. Bendung Katulampa sendiri membagi aliran Sungai Ciliwung menjadi dua, yakni menuju Bogor, Depok, dan Jakarta serta aliran Kali Baru Timur yang digunakan untuk irigasi. Kondisi ini juga mengingatkan warga terhadap perubahan kualitas sungai, yang menurut warga setempat dahulu masih digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi kini telah tercemar dan tidak lagi dimanfaatkan sebagai sumber air.

Penyusutan debit Ciliwung menjadi bagian dari dampak kemarau berkepanjangan yang melanda Jawa Barat. Hingga awal Juli 2026, kekeringan telah meluas ke enam kabupaten dan kota serta menyebabkan lebih dari 10.000 warga mengalami krisis air bersih. BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Jawa Barat akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal, dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di sekitar 90 persen wilayah. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan krisis air bersih jika tidak diantisipasi melalui pengelolaan sumber daya air yang tepat.

Search